Sore itu aku duduk ditemani secangkir kopi panas. Bau harum khas
kopi hitam kesukaanku menusuk hidung. Kutahan nafas sebentar untuk menikmati
aromanya. Mataku terpejam, angan melayang ke angkasa. Setelah puas, kembali
kulayangkan pandangan ke sekeliling. Masih sepi. Biasanya, sore seperti ini
warung kopi mbah Jo rame pengunjung. Entahlah, mungkin masih pada malas untuk sekedar
melangkahkan kaki di antara rintik hujan kota metropolitan.
Tidak lama berselang, dari kejauhan nampak dua sahabat karib
bejalan beriringan menuju warung mbah Jo. Bang Sali dan bang Sipul tengah asyik
bersenda-gurau. Terlihat sesekali bang Ipul mengibaskan rambut ikalnya. Rintik
hujan sore ini kelihatannya menembus hingga ke pori-pori kulit kepalanya. Makin
lama, langkah kaki mereka berdua semakin mendekat ke arahku.
“bang Andi sudah lama?” si Sali menyapaku duluan.
“lumayan bang. Kopi dalam cangkirku saja sudah agak dingin”.
Timpalku.
Keduanya mengambil posisi tempat duduk di dekatku. Kami bertiga
duduk menghadap satu meja kecil yang terbuat dari kayu mahoni. Sekian menit
berikutnya, aku, Sali, dan Sipul larut dalam kesibukan masing-masing. Kondisi
ini berlangsung agak lama. Hingga tanpa kami sadari, mbah Jo menegur dengan
suara khas rentanya.
“duduk bersebelahan, tapi kok saling acuh tak acuh. Apa lagi pada
gencatan senjata?”
Sontak kami bertiga mendongakkan kepala. Sedetik kemudian, tawa
kami memecah keheningan suasana. Kali ini giliran mbah Jo yang melongo
menyaksikan tingkah konyol kami bertiga. Dan, justru hal itu membuat tawa kami
berlanjut. Berjilid-jilid layaknya aksi sekelompok massa yang mengatasnamakan
agama. Di ruangan sebelah, mbah Jo masih bengong memikirkan tiga pemuda gila
pelanggannya.
“mbah… kalau bicara yang hati-hati loh ya?” Sipul menggoda aki-aki
pemilik warung kopi. Yang digoda sibuk melanjutkan aktifitasnya.
“bisa-bisa nanti masuk bui” kali ini suara si rambut ikal agak
ditinggikan. Rupanya hal itu berhasil mengalihkan perhatian mbah Jo.
“weleeeeh… salahku apa to cah bagus…? Wong sekedar menyapa kalian
yang saling acuh?”
“mbah memang nggak ada salahnya”
“lha terus kok mau di bui to ngger?”
“karna perkataan mbh Jo sudah menyinggung kami bertiga”
“ediaaaan surooo…” laki-laki tua itu menggelengkan kepala sambil
melanjutkan aktifitasnya.
Rambut putih yang menghiasi kepala, sama sekali tidak mengurangi
kegesitannya. Terbilang sudah tua, mbah Jo masih sanggup menguras energi untuk
mencari sesuap nasi. Menurutnya rizki yang didapat dari keringat sendiri lebih
nikmat. Selain itu, bekerja merupakan wujud syukur atas kesehatan yang masih
dianugerahkan padanya hingga saat ini.
“kalau nanti simbah dipenjara gegara menyinggung perasaan kalian
bertiga mbah sih ikhlas-ikhlas saja” lanjutnya sambil membersihkan
cangkir-cangkir mungilnya.
“mbah nggak susah kok. Di usia senja seperti ini, kan enak tinggal
makan dan tidur saja walau di dalam jeruji”. Kami bertiga masih mendengarkan
dengan seksama. Sali terlihat sedang memainkan rokok kretek dalam himpitan
jemarinya.
“yang mbah susahin justru kalian”
Kami bertiga saling pandang, bingung dan tak tahu apa maksud mbah
Jo.
“nanti kalian bertiga mau ngutang kopi dimana?”
Gerrrrrrrr… tawa kami membahana untuk yang kedua kalinya. Bahkan si
Sipul sampai menitikkan air mata. Rintik hujan masih menunjukkan eksistensinya.
Sepertinya, tidak akan mereda dalam hitungan puluhan menit saja. Dan mbah Jo
masih meneruskan aktifitasnya.
“kalau masalah hutang kami mbok ya jangan disinggung ta mbah?”
giliran Sali bicara.
“mbah nggak nyinggung kok le…”
“lha tadi apa mbah maksudnya?”
“mbah sekedar mengingatkan saja, nggak apa-apa kan?”
Kami bertiga tersenyum kecut mendengar penuturan mbah Jo yang apa
adanya. Dan harus kami akui, sebagai mahasiswa dari kalangan pas-pasan, warung
ini menjadi solusi yang tepat dalam menyiasati perekonomian dalam negeri kami.
Aku masih belum berani angkat bicara, menunggu momentum yang tepat agar tidak
menyesal seperti kedua kawan setiaku.
Sore itu masih seperti sore-sore yang lalu. Kami bertiga menikmati
kopi hitam seduhan mbah Jo. Racikannya pas, tidak terlalu manis. Rasa pahitnya
juga tidak terlalu mendominasi. Pokoknya, bagi kami bertiga kopi mbah Jo paling
oke. Harga murah, plus boleh bon.
“ya sudah mbah… kita ikrar damai saja ya?” giliranku menimpali.
“memang sejak kapan mbah ngajak berantem?”
Lagi-lagi kami dibuat bungkam oleh
sentilan laki-laki renta ini. Pada dasarnya kami paham bahwa kata-kata yang
terucap darinya sama sekali bukan gambaran utuh hatinya. Mbah sosok yang sangat
baik pada kami bertiga. Bisa dibilang, beliaulah keluarga kecil kami di kota
metropolitan yang ganas ini.
“ya sudah mbah… nanti kalau kami
sudah sukses, mbah akan kami kasih modal untuk membesarkan usaha ini” orasi Sipul
layaknya calon kepala daerah yang sedang kampanye.
“mbah nggak butuh janji kok le…
cukup melihat kalian sukses mbah sudah bangga” kali ini, muka beliau agak
serius. Aktifitasnya juga dihentikan sejenak. Raut wajah keriputnya seolah
ingin mengatakan sesuatu. Namun aku tak mampu mengungkap apa makna di balik
semua itu.
“kuliah yang bener, nanti kerja yang
bener, biar hidupnya juga bener le…”
“nggak perlu janji-janji… apalagi njanjiin
mbah e dengan segudang janji. Paling-paling juga lupa jika sudah hebat nanti.”
“jangankan sama mbah yang sudah
renta ini. Satu sama lain paling juga tidak kenal.”
Mata kami saling beradu pandang. Ada
penyesalan dalam hati karena telah memancing perbincangan yang agak menohok
posisi kami. Awalnya, memang sekedar selingan ngopi kami sore ini. Tapi
entah karena sebab apa, mbah Jo menanggapinya serius. Padahal, biasanya beliau
sangat humoris.
Empat puluh menit telah berlalu.
Masih ada setengah cangkir lebih kopi yang belum kami minum. Bermodalkan uang
dua ribu, kami mampu menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi. Obrolan
ngelantur seputar politik, ekonomi, bahkan agama menjadi menu sampingan. Akan
lebih seru lagi kalau bang Ari hadir di tengah kami. Sampai pagi pun betah
rasanya duduk di warung ini.
Rintik hujan masih belum menunjukkan
tanda-tanda akan reda. Kuambil pisang goreng hangat yang barusan disajikan di
hadapan kami. Sentilan mbah Jo masih terngiang terus di telinga ini. Raut wajah
rentanya yang menunjukkan keseriusan juga masih membayangiku. Mungkin aku yang baper
kali ya? Kuseruput lagi kopi hitam itu, berharap bisa menghilangkan pikiran
kotor yang mengerak dalam otakku sore ini.
“masih punya niat memenjarakan mbah
karena telah menyinggung perasaan kalian?”
Jleeeb… kami bertiga melongo semua.
EmoticonEmoticon