Senin, 30 Januari 2017

(cerpen) CANGKIR KOPI MBAH JO


Sore itu aku duduk ditemani secangkir kopi panas. Bau harum khas kopi hitam kesukaanku menusuk hidung. Kutahan nafas sebentar untuk menikmati aromanya. Mataku terpejam, angan melayang ke angkasa. Setelah puas, kembali kulayangkan pandangan ke sekeliling. Masih sepi. Biasanya, sore seperti ini warung kopi mbah Jo rame pengunjung. Entahlah, mungkin masih pada malas untuk sekedar melangkahkan kaki di antara rintik hujan kota metropolitan.
Tidak lama berselang, dari kejauhan nampak dua sahabat karib bejalan beriringan menuju warung mbah Jo. Bang Sali dan bang Sipul tengah asyik bersenda-gurau. Terlihat sesekali bang Ipul mengibaskan rambut ikalnya. Rintik hujan sore ini kelihatannya menembus hingga ke pori-pori kulit kepalanya. Makin lama, langkah kaki mereka berdua semakin mendekat ke arahku.
“bang Andi sudah lama?” si Sali menyapaku duluan.
“lumayan bang. Kopi dalam cangkirku saja sudah agak dingin”. Timpalku.
Keduanya mengambil posisi tempat duduk di dekatku. Kami bertiga duduk menghadap satu meja kecil yang terbuat dari kayu mahoni. Sekian menit berikutnya, aku, Sali, dan Sipul larut dalam kesibukan masing-masing. Kondisi ini berlangsung agak lama. Hingga tanpa kami sadari, mbah Jo menegur dengan suara khas rentanya.
“duduk bersebelahan, tapi kok saling acuh tak acuh. Apa lagi pada gencatan senjata?”
Sontak kami bertiga mendongakkan kepala. Sedetik kemudian, tawa kami memecah keheningan suasana. Kali ini giliran mbah Jo yang melongo menyaksikan tingkah konyol kami bertiga. Dan, justru hal itu membuat tawa kami berlanjut. Berjilid-jilid layaknya aksi sekelompok massa yang mengatasnamakan agama. Di ruangan sebelah, mbah Jo masih bengong memikirkan tiga pemuda gila pelanggannya.
“mbah… kalau bicara yang hati-hati loh ya?” Sipul menggoda aki-aki pemilik warung kopi. Yang digoda sibuk melanjutkan aktifitasnya.
“bisa-bisa nanti masuk bui” kali ini suara si rambut ikal agak ditinggikan. Rupanya hal itu berhasil mengalihkan perhatian mbah Jo.
“weleeeeh… salahku apa to cah bagus…? Wong sekedar menyapa kalian yang saling acuh?”
“mbah memang nggak ada salahnya”
“lha terus kok mau di bui to ngger?”
“karna perkataan mbh Jo sudah menyinggung kami bertiga”
“ediaaaan surooo…” laki-laki tua itu menggelengkan kepala sambil melanjutkan aktifitasnya.
Rambut putih yang menghiasi kepala, sama sekali tidak mengurangi kegesitannya. Terbilang sudah tua, mbah Jo masih sanggup menguras energi untuk mencari sesuap nasi. Menurutnya rizki yang didapat dari keringat sendiri lebih nikmat. Selain itu, bekerja merupakan wujud syukur atas kesehatan yang masih dianugerahkan padanya hingga saat ini.
“kalau nanti simbah dipenjara gegara menyinggung perasaan kalian bertiga mbah sih ikhlas-ikhlas saja” lanjutnya sambil membersihkan cangkir-cangkir mungilnya.
“mbah nggak susah kok. Di usia senja seperti ini, kan enak tinggal makan dan tidur saja walau di dalam jeruji”. Kami bertiga masih mendengarkan dengan seksama. Sali terlihat sedang memainkan rokok kretek dalam himpitan jemarinya.
“yang mbah susahin justru kalian”
Kami bertiga saling pandang, bingung dan tak tahu apa maksud mbah Jo.
“nanti kalian bertiga mau ngutang kopi dimana?”
Gerrrrrrrr… tawa kami membahana untuk yang kedua kalinya. Bahkan si Sipul sampai menitikkan air mata. Rintik hujan masih menunjukkan eksistensinya. Sepertinya, tidak akan mereda dalam hitungan puluhan menit saja. Dan mbah Jo masih meneruskan aktifitasnya.
“kalau masalah hutang kami mbok ya jangan disinggung ta mbah?” giliran Sali bicara.
“mbah nggak nyinggung kok le…”
“lha tadi apa mbah maksudnya?”
“mbah sekedar mengingatkan saja, nggak apa-apa kan?”
Kami bertiga tersenyum kecut mendengar penuturan mbah Jo yang apa adanya. Dan harus kami akui, sebagai mahasiswa dari kalangan pas-pasan, warung ini menjadi solusi yang tepat dalam menyiasati perekonomian dalam negeri kami. Aku masih belum berani angkat bicara, menunggu momentum yang tepat agar tidak menyesal seperti kedua kawan setiaku.
Sore itu masih seperti sore-sore yang lalu. Kami bertiga menikmati kopi hitam seduhan mbah Jo. Racikannya pas, tidak terlalu manis. Rasa pahitnya juga tidak terlalu mendominasi. Pokoknya, bagi kami bertiga kopi mbah Jo paling oke. Harga murah, plus boleh bon.
“ya sudah mbah… kita ikrar damai saja ya?” giliranku menimpali.
“memang sejak kapan mbah ngajak berantem?”
            Lagi-lagi kami dibuat bungkam oleh sentilan laki-laki renta ini. Pada dasarnya kami paham bahwa kata-kata yang terucap darinya sama sekali bukan gambaran utuh hatinya. Mbah sosok yang sangat baik pada kami bertiga. Bisa dibilang, beliaulah keluarga kecil kami di kota metropolitan yang ganas ini.
            “ya sudah mbah… nanti kalau kami sudah sukses, mbah akan kami kasih modal untuk membesarkan usaha ini” orasi Sipul layaknya calon kepala daerah yang sedang kampanye.
            “mbah nggak butuh janji kok le… cukup melihat kalian sukses mbah sudah bangga” kali ini, muka beliau agak serius. Aktifitasnya juga dihentikan sejenak. Raut wajah keriputnya seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun aku tak mampu mengungkap apa makna di balik semua itu.
            “kuliah yang bener, nanti kerja yang bener, biar hidupnya juga bener le…”
            “nggak perlu janji-janji… apalagi njanjiin mbah e dengan segudang janji. Paling-paling juga lupa jika sudah hebat nanti.”
            “jangankan sama mbah yang sudah renta ini. Satu sama lain paling juga tidak kenal.”
            Mata kami saling beradu pandang. Ada penyesalan dalam hati karena telah memancing perbincangan yang agak menohok posisi kami. Awalnya, memang sekedar selingan ngopi kami sore ini. Tapi entah karena sebab apa, mbah Jo menanggapinya serius. Padahal, biasanya beliau sangat humoris.
            Empat puluh menit telah berlalu. Masih ada setengah cangkir lebih kopi yang belum kami minum. Bermodalkan uang dua ribu, kami mampu menghabiskan waktu berjam-jam di warung kopi. Obrolan ngelantur seputar politik, ekonomi, bahkan agama menjadi menu sampingan. Akan lebih seru lagi kalau bang Ari hadir di tengah kami. Sampai pagi pun betah rasanya duduk di warung ini.
            Rintik hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Kuambil pisang goreng hangat yang barusan disajikan di hadapan kami. Sentilan mbah Jo masih terngiang terus di telinga ini. Raut wajah rentanya yang menunjukkan keseriusan juga masih membayangiku. Mungkin aku yang baper kali ya? Kuseruput lagi kopi hitam itu, berharap bisa menghilangkan pikiran kotor yang mengerak dalam otakku sore ini.
            “masih punya niat memenjarakan mbah karena telah menyinggung perasaan kalian?”
            Jleeeb… kami bertiga melongo semua.


EmoticonEmoticon