Selasa, 17 Januari 2017

cerpen, NYANYIAN MERDU QOMARUN



NYANYIAN MERDU QOMARUN
Oleh: Moh. Asrofi

Malam itu lagi-lagi kupaksakan telapak kakiku melangkah. Menuruti angan-anganku yang akhir-akhir ini sangat sulit kupahami. Kadang kupikir semua ini hanyalah khayalan belaka. Aku, ya aku, bukan bagian kaum bersarung yang setiap hari menenteng kitab suci. Jangankan menyentuhnya, sekedar meliriknya saja diriku tak memiliki daya. Tubuhku ini terbungkus debu kotor, sangat kotor. Mungkin jika ada pembersih termutakhirpun tak akan mampu menghapusnya.
Sepintas orang akan terpesona melihat penampilanku. Bukannya sombong, diantara sekian banyak pemuda di lingkunganku, akulah yang paling menarik. Pengakuan ini bukan atas dasar subyektifitas pribadiku saja. Buktinya, setiap kali batang hidungku terlihat di muka umum, decak kagum akan fisikku terdengar hingga jauh ke dalam lubuk hati. Diakui atau tidak begitulah faktanya. Ini bukan info hoax seperti yang akhir-akhir ini marak di kalangan kaum muda.
Penampilanku yang acuh, membuat lawan jenis bertambah penasaran. Di mata mereka, sifatku ini menjadi daya tarik tersendiri. Kadang-kadang aku dibuat jengah oleh tingkah tak jelas mereka, yang menuntut hal aneh dari pribadiku. Kutegaskan lagi dalam hatiku, aku ya aku, orang yang tidak akan pernah menjadi dia atau mereka.
Namun akhir-akhir ini ada yang berubah dalam diriku. Pada awalnya semua tidak kusadari. Bisik-bisik dari teman sekampus lambat laun merasuki gendang telingaku. Ah…. Itu hanyalah penilaian dari orang-orang yang masih simpati padaku. Mungkin, mereka ingin menghiburku. Atau sekedar basa basi agar pertemanan yang sudah terjalin ini bertambah mesra. Jangankan untuk mengimani dan mengamini semua yang kudengar dari mereka, aku teaplah aku yang dulu. Cuek.
Kebisingan itu rupanya juga merasuki keluarga kecilku. Ibu, entah apa yang membuatnya akhir-akhir ini berbeda. Dalam pandanganku, kasihnya memang tidak pernah berubah. Dialah yang senantiasa memperhatikanku sepenuh hati. Pun demikian, kuamati perhatiannya padaku sekarang bertambah. Rekahan senyumnya begitu tulus, setulus purnama yang menyinari malam. Hmm….mendadak diriku menjadi orang lain dalam lingkungan keluarga. Aneh. Benar-benar aneh.
Tatapan mata sekelilingku sekarang juga nampak lain. Ada yang berbeda dari biasanya. Dulu, berpasang mata itu mengagumi fisikku saja. Melihatku, seolah melihat pangeran roma yang gagah itu. Tapi sekarang, kurasakan sorot mata mereka bukan hanya menikmati keindahan wajahku yang ganteng. Entahlah, yang jelas aku dapat merasakan perbedaan itu, walau mulutku tak dapat mendefinisikannya.
Perubahan yang lain, yang tidak kalah membuatku bingung, adalah sikapku. Sikap masa bodoh, acuh, itu sekarang sedikit mengikis dari karakterku. Buktinya, aku begitu teliti atas perubahan-perubahan kecil yang terjadi dalam lingkunganku. Mulai dari teman, keluarga, hingga tetangga. Dan hal-hal aneh itu terus menjalar dalam otakku. Ada semacam rasa yang sulit kuungkapkan untuk memahami semua. Bingung.
Kuputuskan malam itu mengikuti rayuan teman sekampung. Yang terbersit dalam hatiku, aku bisa sedikit melupakan kebingungan yang membelengguku. Keputusan kali ini merupakan efek dari perasaan yang terus menghantuiku. Huft….bingung dan bingung. Bagai seonggok bangkai, kuikuti kemauan teman karibku itu. Padahal, aku tahu kemana dia akan membawa diriku. Ke tempat yang belum sekalipun kuinjakkan jari-jari kaki manis ini di sana. Dulu, membayangkan saja tidak pernah terbersit dalam anganku. Dan malam ini? Aku bersama orang yang selalu ada buat diriku, sahabat karibku.
Kumainkan gadget terbaru yang baru kubeli sebulan lalu. Sama sekali tak kuperhatikan sekeliling yang terhanyut dalam alunan shalawat nabi. Di depan sana, kurang lebih lima belas meter, nampak panggung besar nan megah. Segerombolan orang sedang memainkan musik islami. Dari ribuan jamaah yang hadir, mungkin hanya diriku yang tidak memperhatikan. Jemariku masih sibuk mengotak-atik layar smartphone yang kupegang. Sebenarnya tidak ada hal yang penting, hanya untuk mengisi waktuku malam itu.
Tiba-tiba jemariku berhenti. Aku tertegun saat mendengar suara itu. Suara yang sudah tidak asing bagi telingaku. Kuperbaiki dudukku. Kali ini kusilangkan kaki, dengan tubuh agak membungkuk. Persis seperti seorang abdi yang menerima titah dari bendoronya. Dengan spontan, hp kumatikan. Entahlah….kekuatan suara itu begitu mengusik pendengaranku. Ada semacam daya super yang meremukkan jantungku.
Qomaruuun….qomaruuun….qomarun sidnan nabi….qomaruuun….
Wa jamiiil….wa jamiiil…wa jamil sidnan nabi….wa jamiiiil….
Semakin lama, kekuatan suara itu membuat kepalaku tertunduk. Sang vokalis, kuperkirakan umurnya sedikit dibawahku, begitu menghayati lagu yang dibawakannya. Hatiku semakin layu, tertunduk lesu tanpa daya. Suara merdu itu menghanyutkan khayalku, membawanya ke alam bawah sadar. Aku begitu terpana hingga tak terasa mulutku mengikuti setiap lantunan nada-nadanya.
Diantara kebingungan yang menghantui akhir-akhir ini, kutemukan tempat yang mampu membawa angin kedamaian dalam jiwaku. Sedikit demi sedikit debu yang menutupi tubuh kubersihkan. Rahasia dibalik perubahan sikap lingkunganku mulai kupahami. Simpul yang membuat hatiku gundah kini mulai terurai.
Kuingat lagi waktu itu, yang tanpa sengaja jemariku membuka sebuah postingan facebook karibku. Sahabat yang malam itu memaksa langkahku menuju majlis shalawat pertama kali. Koleksi terbaru guys….tulisnya. Video berdurasi kurang lebih tujuh menit itu kubuka. Sebenarnya hatiku tidak ada minat sama sekali. Hanya untuk menghargai kawan karibku saja unggahannya kali ini kulihat.
Tidak ada yang istimewa dalam video itu. Ada sekitar enam atau tujuh orang yang memainkan alat musik banjari dan sebuah organ tunggal. Di depan mereka satu vokalis cewek, didampingi empat orang backing vocal. Walaupun tanpa nafsu, kuputar video itu hingga detik terakhir. Kutinggalkan sebaris kalimat dalam kolom komentar….nice video bro. Sebatas itu, tidak lebih. Hitung-hitung menghargai persahabatan kami yang sudah terjalin dari kecil.
Hari berlalu tanpa ada yang berubah. Matahari masih setia menyapa mayapada tanpa merasa lelah. Pun aktifitasku, masih seperti yang dulu. Satu-satunya perubahan yang tidak kusadari adalah, setiap sebelum tidur kubuka lagi postingan karibku. Entahlah….ada kekuatan yang tidak sanggup kupahami. Kekuatan itu menggerakkan jemariku untuk meng-klick­ video itu. Dan hal itu terus berlangsung setiap malam, sebelum mataku terpejam.
Pernah suatu malam aku tertidur tanpa sempat membuka video itu. Paginya kurasakan ada semacam rongga yang menganga dalam hatiku. Rasa gelisah atas sesuatu yang sama sekali tidak mampu kuselami. Suara merdu itu begitu mengganggu hari-hari terakhirku.
Kebiasaanku pulang larut, bahkan terkadang menjelang pagi. Di awal sudah kukatakan, bahwa tubuhku berdebu. Kotor, sangat dan sangat kotor. Pasca melihat postingan karibku itu, ada sebuah bisikan gaib yang menuntunku pelan dan pasti. Yang jelas, hatiku terasa dingin ketika mendengar lantunan nada dari si cantik itu. Jika boleh kuumpamakan, seperti tanah kering yang ditetesi embun pagi. Mungkin begitulah yang kurasakan.
Karena suara yang membingungkan itu, tidurku kini tidak larut malam lagi. Hal baru yang paling kunikmati lagi, ibu selalu membuka pintu kamarku. Tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya. Hanya sekulum senyum menghiasi malam-malam menjelang tidurku. Sampai malam ini, aku masih bingung dengan tingkahku sendiri. Entahlah….yang jelas, ada dua hal yang bisa kupastikan: mendengarkan lagu qomarun unggahan karibku sebelum tidur, juga senyum ibu yang menghiasi malam-malamku. Dua hal itu pula yang kini menghiasi taman indah dalam hatiku.
Kulihat sinar kuning keemasan menghiasi langit di arah barat. Perlahan kulangkahkan kaki menuju masjid, ditemani ibu dan karibku. Kami berjalan beriringan menuju rumah Alloh yang menyimpan berjuta kedamaian. Di persimpangan jalan, sore itu kulirik pelantun lagu qomarun yang setiap malam kudengarkan. Suatu hari, pasti engkau akan kuhalalkan….





EmoticonEmoticon