NYANYIAN MERDU
QOMARUN
Oleh: Moh.
Asrofi
Malam itu
lagi-lagi kupaksakan telapak kakiku melangkah. Menuruti angan-anganku yang
akhir-akhir ini sangat sulit kupahami. Kadang kupikir semua ini hanyalah
khayalan belaka. Aku, ya aku, bukan bagian kaum bersarung yang setiap hari
menenteng kitab suci. Jangankan menyentuhnya, sekedar meliriknya saja diriku
tak memiliki daya. Tubuhku ini terbungkus debu kotor, sangat kotor. Mungkin
jika ada pembersih termutakhirpun tak akan mampu menghapusnya.
Sepintas orang
akan terpesona melihat penampilanku. Bukannya sombong, diantara sekian banyak
pemuda di lingkunganku, akulah yang paling menarik. Pengakuan ini bukan atas
dasar subyektifitas pribadiku saja. Buktinya, setiap kali batang hidungku
terlihat di muka umum, decak kagum akan fisikku terdengar hingga jauh ke dalam
lubuk hati. Diakui atau tidak begitulah faktanya. Ini bukan info hoax seperti
yang akhir-akhir ini marak di kalangan kaum muda.
Penampilanku
yang acuh, membuat lawan jenis bertambah penasaran. Di mata mereka, sifatku ini
menjadi daya tarik tersendiri. Kadang-kadang aku dibuat jengah oleh tingkah tak
jelas mereka, yang menuntut hal aneh dari pribadiku. Kutegaskan lagi dalam
hatiku, aku ya aku, orang yang tidak akan pernah menjadi dia atau mereka.
Namun akhir-akhir
ini ada yang berubah dalam diriku. Pada awalnya semua tidak kusadari.
Bisik-bisik dari teman sekampus lambat laun merasuki gendang telingaku. Ah….
Itu hanyalah penilaian dari orang-orang yang masih simpati padaku. Mungkin,
mereka ingin menghiburku. Atau sekedar basa basi agar pertemanan yang sudah
terjalin ini bertambah mesra. Jangankan untuk mengimani dan mengamini semua
yang kudengar dari mereka, aku teaplah aku yang dulu. Cuek.
Kebisingan itu
rupanya juga merasuki keluarga kecilku. Ibu, entah apa yang membuatnya
akhir-akhir ini berbeda. Dalam pandanganku, kasihnya memang tidak pernah
berubah. Dialah yang senantiasa memperhatikanku sepenuh hati. Pun demikian,
kuamati perhatiannya padaku sekarang bertambah. Rekahan senyumnya begitu tulus,
setulus purnama yang menyinari malam. Hmm….mendadak diriku menjadi orang lain
dalam lingkungan keluarga. Aneh. Benar-benar aneh.
Tatapan mata
sekelilingku sekarang juga nampak lain. Ada yang berbeda dari biasanya. Dulu,
berpasang mata itu mengagumi fisikku saja. Melihatku, seolah melihat pangeran
roma yang gagah itu. Tapi sekarang, kurasakan sorot mata mereka bukan hanya
menikmati keindahan wajahku yang ganteng. Entahlah, yang jelas aku dapat
merasakan perbedaan itu, walau mulutku tak dapat mendefinisikannya.
Perubahan yang
lain, yang tidak kalah membuatku bingung, adalah sikapku. Sikap masa bodoh,
acuh, itu sekarang sedikit mengikis dari karakterku. Buktinya, aku begitu
teliti atas perubahan-perubahan kecil yang terjadi dalam lingkunganku. Mulai
dari teman, keluarga, hingga tetangga. Dan hal-hal aneh itu terus menjalar dalam
otakku. Ada semacam rasa yang sulit kuungkapkan untuk memahami semua. Bingung.
Kuputuskan
malam itu mengikuti rayuan teman sekampung. Yang terbersit dalam hatiku, aku
bisa sedikit melupakan kebingungan yang membelengguku. Keputusan kali ini
merupakan efek dari perasaan yang terus menghantuiku. Huft….bingung dan
bingung. Bagai seonggok bangkai, kuikuti kemauan teman karibku itu. Padahal,
aku tahu kemana dia akan membawa diriku. Ke tempat yang belum sekalipun
kuinjakkan jari-jari kaki manis ini di sana. Dulu, membayangkan saja tidak
pernah terbersit dalam anganku. Dan malam ini? Aku bersama orang yang selalu ada
buat diriku, sahabat karibku.
Kumainkan
gadget terbaru yang baru kubeli sebulan lalu. Sama sekali tak kuperhatikan
sekeliling yang terhanyut dalam alunan shalawat nabi. Di depan sana, kurang
lebih lima belas meter, nampak panggung besar nan megah. Segerombolan orang
sedang memainkan musik islami. Dari ribuan jamaah yang hadir, mungkin hanya diriku
yang tidak memperhatikan. Jemariku masih sibuk mengotak-atik layar smartphone
yang kupegang. Sebenarnya tidak ada hal yang penting, hanya untuk mengisi
waktuku malam itu.
Tiba-tiba
jemariku berhenti. Aku tertegun saat mendengar suara itu. Suara yang sudah
tidak asing bagi telingaku. Kuperbaiki dudukku. Kali ini kusilangkan kaki, dengan
tubuh agak membungkuk. Persis seperti seorang abdi yang menerima titah dari
bendoronya. Dengan spontan, hp kumatikan. Entahlah….kekuatan suara itu begitu
mengusik pendengaranku. Ada semacam daya super yang meremukkan jantungku.
Qomaruuun….qomaruuun….qomarun sidnan nabi….qomaruuun….
Wa jamiiil….wa jamiiil…wa jamil sidnan nabi….wa jamiiiil….
Semakin lama,
kekuatan suara itu membuat kepalaku tertunduk. Sang vokalis, kuperkirakan
umurnya sedikit dibawahku, begitu menghayati lagu yang dibawakannya. Hatiku
semakin layu, tertunduk lesu tanpa daya. Suara merdu itu menghanyutkan
khayalku, membawanya ke alam bawah sadar. Aku begitu terpana hingga tak terasa
mulutku mengikuti setiap lantunan nada-nadanya.
Diantara
kebingungan yang menghantui akhir-akhir ini, kutemukan tempat yang mampu
membawa angin kedamaian dalam jiwaku. Sedikit demi sedikit debu yang menutupi
tubuh kubersihkan. Rahasia dibalik perubahan sikap lingkunganku mulai kupahami.
Simpul yang membuat hatiku gundah kini mulai terurai.
Kuingat lagi
waktu itu, yang tanpa sengaja jemariku membuka sebuah postingan facebook
karibku. Sahabat yang malam itu memaksa langkahku menuju majlis shalawat
pertama kali. Koleksi terbaru guys….tulisnya. Video berdurasi kurang lebih
tujuh menit itu kubuka. Sebenarnya hatiku tidak ada minat sama sekali. Hanya
untuk menghargai kawan karibku saja unggahannya kali ini kulihat.
Tidak ada yang
istimewa dalam video itu. Ada sekitar enam atau tujuh orang yang memainkan alat
musik banjari dan sebuah organ tunggal. Di depan mereka satu vokalis cewek,
didampingi empat orang backing vocal. Walaupun tanpa nafsu, kuputar video itu
hingga detik terakhir. Kutinggalkan sebaris kalimat dalam kolom komentar….nice
video bro. Sebatas itu, tidak lebih. Hitung-hitung menghargai persahabatan kami
yang sudah terjalin dari kecil.
Hari berlalu
tanpa ada yang berubah. Matahari masih setia menyapa mayapada tanpa merasa
lelah. Pun aktifitasku, masih seperti yang dulu. Satu-satunya perubahan yang
tidak kusadari adalah, setiap sebelum tidur kubuka lagi postingan karibku.
Entahlah….ada kekuatan yang tidak sanggup kupahami. Kekuatan itu menggerakkan
jemariku untuk meng-klick video itu. Dan hal itu terus berlangsung
setiap malam, sebelum mataku terpejam.
Pernah suatu
malam aku tertidur tanpa sempat membuka video itu. Paginya kurasakan ada
semacam rongga yang menganga dalam hatiku. Rasa gelisah atas sesuatu yang sama
sekali tidak mampu kuselami. Suara merdu itu begitu mengganggu hari-hari
terakhirku.
Kebiasaanku
pulang larut, bahkan terkadang menjelang pagi. Di awal sudah kukatakan, bahwa
tubuhku berdebu. Kotor, sangat dan sangat kotor. Pasca melihat postingan
karibku itu, ada sebuah bisikan gaib yang menuntunku pelan dan pasti. Yang
jelas, hatiku terasa dingin ketika mendengar lantunan nada dari si cantik itu.
Jika boleh kuumpamakan, seperti tanah kering yang ditetesi embun pagi. Mungkin
begitulah yang kurasakan.
Karena suara
yang membingungkan itu, tidurku kini tidak larut malam lagi. Hal baru yang
paling kunikmati lagi, ibu selalu membuka pintu kamarku. Tanpa sepatah kata
terucap dari bibirnya. Hanya sekulum senyum menghiasi malam-malam menjelang
tidurku. Sampai malam ini, aku masih bingung dengan tingkahku sendiri.
Entahlah….yang jelas, ada dua hal yang bisa kupastikan: mendengarkan lagu qomarun
unggahan karibku sebelum tidur, juga senyum ibu yang menghiasi malam-malamku.
Dua hal itu pula yang kini menghiasi taman indah dalam hatiku.
Kulihat sinar
kuning keemasan menghiasi langit di arah barat. Perlahan kulangkahkan kaki
menuju masjid, ditemani ibu dan karibku. Kami berjalan beriringan menuju rumah
Alloh yang menyimpan berjuta kedamaian. Di persimpangan jalan, sore itu kulirik
pelantun lagu qomarun yang setiap malam kudengarkan. Suatu hari, pasti
engkau akan kuhalalkan….

EmoticonEmoticon