Oleh : Ahmad Toha
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَخَرَّجَهُ التِّرْمِذِيُّ
قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ:" سَتَكُونُ فِتَنٌ كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ. قُلْتُ يَا رَسُولَ
اللَّهِ وَمَا الْمَخْرَجُ مِنْهَا؟ قَالَ: كِتَابُ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
Diriwayatkan dari Sayyidina Ali R.A, ia berkata: sesungguhnya aku
mendengar baginda Rosulullah SAW bersabda: akan datang suatu masa ketika fitnah
semupama pekat malam gelap. Akau bertanya; lalu apa pinu keluar dari kegelapan
fitnah itu ya Rolulallah? Beliau menjawab: "Kitab Allah".
Sungguh apabila kita melihat kondisi saat ini, seakan
mirip dengan apa yang telah disabdakan Nabi tentang akan datangnya zaman yang bertebaran
fitnah yang bagiakan gelap pekat. Sangat sulit membedakan mana yang benar dan
mana yang salah. Terlalu banyaknya fitnah bahkan sampai membelenggu seseorang
baik itu yang tadinya orang saleh maupun bukan.
Belakangan
ini masyarakat diresahkan dengan adanya berita "hoax" yaitu berita
yang mengandung ketidakbenaran. Berita-berita tersebut lebih sering disebarkan
lewat media internet entah itu facebook, whatsapp, twitter ataupun situs-situs
berita yang tersebar di dunia maya. Media di atas bisa dikatakan ajang yang
paling ampuh untuk menyebarkan suatu berita karena memang jangkaunya yang
sangat luas hingga manusia seluruh dunia bisa membacanya.
Pada
zaman sekarang ini, internet merupakan
sebuah perangkat yang digunakan diseluruh dunia. Semua orang sangat
mudah menerima dan menyebarkan sesuatu lewat perangkat ini. Apalagi penggunaan
samartphone yang sudah sangat canggih yang setiap harinya digenggam. Tinggal
klik saja kita sudah cepat mendapatkan informasi. Segala akses informasi bisa
saling kita terima dan kita sebarkan lagi.
Akan
tetapi dengan kemudahan yang sangat luar biasa ini, tidak sedikit dari
masyarakat sendiri justru memanfatkanya pada unsur yang negatif seperti
menyebarkan berita bohong atau lebih dikenal dengan berita hoax. Bahkan beberapa
kalangan, saling menjatuhkan dan menfitnah hingga muncul permusuhan antar
masyarakat karena terhasut oleh berita-berita tersebut. Mereka mengedit berita
dari yang sebenarnya, menyebarkannya sehingga banyak yang membaca dan akhirnya
timbullah kesalahpahaman antar masyarakat.
Terkadang
dalam benak masyarakat yang masih awam,
muncul suatu pendapat bahwa menyebarkan berita tersebut tidak ada masalah dan
tidak akan berpengaruh. Pendapat tersebut sangatlah salah. Justru dengan adanya
ketidakbenaran berita yang tersebar di dunia maya malah mempercepat sampainya
suatu berita. Kalau berita itu benar tidak mengapa, akan tetapi jika berita itu
salah dan menimbulkan kesalahpahaman maka hal itu bisa dikategorikan fitnah.
Fitnah sendiri sangat dibenci dalam Islam. Bukankah dalam al Quran sudah
dijelaskan tentang bahaya fitnah "...dan fitnah lebih kejam daripada
pembunuhan..."(Al Baqarah: 191). Dengan adanya fitnah maka bisa
menimbulkan bahaya yang sangat besar. Perang besar maupun pembunuhan berantai
bisa saja terjadi sehingga menimbulkan banyak korban jiwa maupun raga. Nabi
Muhammad SAW menyatakan bahwa seburuk-buruk orang adalah yang menyebarkan
ketidakbenaran suatu berita. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sunan Abu Dawud
dengan sanad yang shahih dikatakan yang artinya "seburuk-buruk
kebiasaan seseorang adalah menjadikan perkataan (persangkaan mereka) sebagai
kendaraanya"
Dengan
demikian hoax ini sama bahayanya dengan fitnah. Dalam sejarah banyak kehancuran
terjadi. Meluluh-lantakkan suatu negri dan menghancurkan sendi-sendi
kemanusiaan yang ada. Namun banyak orang tidak menyadari bahaya ini sehingga
seringkali banyak kalangan yang hanya berbeda pendapat, mereka saling menyerang
dengan cara hoax ini. Oleh karena itu untuk mencegah bahaya hoax ini terjadi, sebagai
orang muslim ada kiat-kiat yang seharusnya dilakukan oleh para penerima berita.
Yang
pertama harus mengecek dan mencari kejelasan atas berita yang kita terima.
Tidak tergesa-gesa menyebarkan berita yang tidak ada sandaran kebenarannya
dengan memperhatikan kaidah mewujudkan kemaslahatan dan menolak kemudhorotan
dalam menyebarkan berita dan menyiarkan pada masyarakat umum. Dalam hal ini
sudah disinggung dalam al Qur'an:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ
تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
"Hai orang-orang yang beriman,jika datang kepadamu orang
Fasik membawa suatu berita, maka periksalah denga teliti agar kamu tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."
(QS Al Hujurat: 6)
Yang
kedua yaitu berprasangka baik. Dengan berprasangka baik maka kita tidak
mudah men-justice orang dan kita pun akan terhindar dari fitnah-fitnah
yang tersebar.
"Mengapa di waktu kamu mendengarkan berita bohong itu orang-orang
mukminin dan mukminat tidak berprasangka baik terhaap diri mereka sendiri, dan
(mengapa tidak) berkata: ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (QS An Nuur: 12).
Yang
ketiga yaitu menjauhi dari menyebarkan dan membongkar aib-aib orang lain.
Hal ini ditegaskan dalam al Qur'an:
إِنَّ
الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا
تَعْلَمُونَ
"Sesungguhnya
orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di
kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang yang pedih di dunia
dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS An Nur:
19).
Para ulama berkata bahwa ayat
inilah yang menjadi dasar tentang larangan menyebarkan isu-isu yang bisa
menjadi buah bibir masyarakat dan memecah belah masyarakat tentang suatu berita
entah itu berita itu benar maupun tidak.
Saya
kira demikianlah kiat-kiat bagaimana kita sebagai manusia yang sudah seharusnya
menjaga kerukunan antar anak bangsa dengan tidak mudah terprovokasi suatu
berita dan lebih bijak dalam menerima berita serta berfikir lebih jauh dalam
menyebarkannya. Selalu berfikir apakah itu mendatangkan maslahah atau
justru mafsadah.

EmoticonEmoticon