Selasa, 07 Maret 2017

"Menghujat" Banser



Banser itu sudah kenyang dengan hujatan. Setidaknya, setiap tahun ada dua bulan momen menghujat Banser. Dan itu rutin. Bak program tahunan. Ibaratnya sebagai agenda "bulan menghujat banser".

Pertama, September akhir-pertengahan Oktober. Periode ini, Banser dihujat habis terkait sejarah masa lalu. Ya, peristiwa 1965. Penghujatnya? tentu kelompok kiri. Tuntutan minta maaf dan bertanggung jawab atas masa lalu didengungkan. Apakah kelompok Islam kanan membela? Nggak.

Kedua, setiap Bulan Desember. Sejak awal bulan, Banser sudah menjadi bulan-bulanan karena menjaga gereja ketika Natal. Prinsip menjaga NKRI dan melindungi minoritas acapkali disalahpahami. Penghujatnya? jelas kelompok Islam kanan. Kafir, munafik dan julukan-julukan lain berhamburan. Apakah kelompok kiri membela? Tidak.

Ini memang suratan takdir. Berdiri di tengah beresiko dihujat kanan-kiri. Pun sekali lagi menunjukkan betapa memilih garis perjuangan "tawasuth", "tasamuh", "tawazun", dan "i'tidal" membutuhkan berkali-kali lipat energi. Harus tahan hujatan dan tentu tahan banting. Dan Banser sangat mampu untuk itu.

Aku selalu terharu ketika berpartisipasi dalam berbagai Pelatihan Ansor dan Banser di berbagai penjuru tanah air. Sering aku jumpai, bapak-bapak sepuh dengan bangga berseragam Banser, menjadi seksi keamanan pelatihan. Sungguh aku melihat keikhlasan yang luar biasa. Pula semangat yang terus menyala tak kunjung padam. Hidmah kepada ulama dan NKRI. Bagi mereka, menjadi banser adalah selamanya, tak lekang oleh waktu. Aku kadang malu dengan diriku sendiri yang belum seberapa berhidmah.

LEK AKU BANSER, KOWE AREP NYAPO????

#saveBanser #NKRIHargaMati #UntungAdaBanser #


EmoticonEmoticon